Selasa, 02 Desember 2014

Kikis Takut Gagal Dan Rasa Malu

Orang banyak yang bilang jika melakukan sesuatu itu yang paling sulit dalam mewujudkan sebuah keinginan adalah memulainya. Seringkali banyak pemikiran-pemikiran yang menghambat untuk menerapkan apa yang diinginkan menjadi sebuah kenyataan, yang berujung pada rasa keengganan. Terutama hambatan yang paling utama itu adalah rasa takut gagal dan malu.
Takut gagal menjadi penghambat nomor satu, dikarenakan banyak orang yang tidak/belum mengetahui potensi besar apa yang dimikinya. Terkadang kita terlalu banyak mencurahkan pikiran hanya pada hambatan-hambatan yang bakal dihadapi daripada memikirkan potensi apa yang sebenarnya kita miliki. Terlalu banyak sebenarnya sumber daya yang dimiliki oleh diri sendiri dan merupakan pemberian besar dari sang pencipta untuk kita berdayakan. Namun kembali lagi kita sering lalai pada diri kita, dikarenakan pemikiran takut akan kegagalan.
Sikap takut gagal ini harus berani dikikis secara perlahan dan digantikan dengan semangat untuk memulai. Yakinlah pada kekuatan sebuah niat, bahkan di keseharian kita pun sering mendengar ungkapan ini "segala sesuatu  itu bergantung pada niat, jika berniat baik maka kebaikan pun akan datang, begitupun sebaliknya". Dari ungkapan itu saja kita bisa tahu, bahwa setiap niat itu pasti akan membuahkan sebuah hasil yang akan menghasilkan sesuatu jika berani untuk berusaha dan memperjuangkan sebuah keinginan atau cita-cita. Semangat untuk memulai juga akan membawa kita pada langkah-langkah berikutnya dan menuntun pada sebuah pencapaian yang ingin diraih. Jika semangat untuk memulai itu sudah dimiliki, terkadang kita akan tidak menyadari bahwa kita sudah berjalan beberapa langkah dan semakin dekat pada sebuah tujuan yaitu mewujudkan impian.
Teringat pada lirik di sebuah lagu milik band kondang coldplay yang berbunyi "if you never try, you'll never know". Yang artinya kurang lebih seperti ini "jika kamu tidak pernah (berani untuk) mencoba, kamu tak akan pernah tahu  (apa hasil yang akan didapat). Satu kalimat yang memiliki makna yang dalam. Inti dari kalimat itu bisa diperluas menjadi, jika hanya berdiam tanpa melakukan apapun jangan pernah berharap untuk mendapatkan sesuatu. Karena segala sesuatu itu semuanya harus berani untuk diperjuangkan dan diusahakan. Dan secara otomatis semua usaha itu harus dilandasi kekuatan niat yang kuat untuk berani memulai serta berusaha mewujudkan impian.
Penghambat selanjutnya adanya rasa malu yang berlebihan. Sebenarnya rasa malu sendiri wajib dimiliki oleh setiap orang. Tentu saja dengan kadar yang wajar, karena rasa malu berkadar wajar bisa menjadi pembatas kita supaya dalam bertindak memiliki batasan baik secara norma maupun etika. Saat malu yang dimiliki berlebihan, itu yang menjadi masalah. Berawal dari malu,akan datang dengan sendirinya pula rasa minder dan tak percaya diri. Ujung-ujungnya akan membuat kita akan tetap pada titik yang sama dan tak pernah berani untuk beranjak menuju hidup yang lebih baik. Memulai sesuatu untuk mewujudkan impian pun akan sangat sulit. Rasa minder membuat sulit untuk bersosialisasi dan menemukan sesuatu yang baru.
Malu (berlebihan) jika diibaratkan layaknya pasungan tak terlihat bagi manusia. Seperti dipasung (oleh rasa malu),hidup akan sulit dan hanya menunggu bantuan orang lain agar kita bisa berdaya atau berdikari. Kreatifitas akan menjadi buntu karena potensi diri tak bisa di maksimalkan. Yang ada kita akan dihantui rasa takut akan kegagalan dan tak pernah berani untuk mencoba memulai sesuatu. Saya yakin dengan kalimat ini
"Kemenangan sejati itu saat kita bisa menaklukan diri sendiri...". Musuh terbesar itu ada tersembunyi dalam diri kita sendiri, banyak sikap-sikap yang dimiliki diri ini yang hakikatnya menjadi penghambat bagi kita sendiri. Seperti takut gagal dan malu , saat kita bisa mengatasi dan menaklukan hambatan yang ada dalam diri tersebut. Dan tentu saja dengan strategi yang tepat pula, yakinlah langkah-langkah selanjutnya akan lebih mudah. Bahkan kita pun tak menyadari ada pada titik yang belum pernah dipikirkan sebelumnya. Walau orientasi awal kita bukan pada hasil/materi tapi yang paling penting adalah proses dan pembelajaran. Yakinkan diri untuk selalu berucap "saya mampu dan saya tidak takut gagal, karena kegagalan adalah awal dari sebuah keberhasilan".