Kamis, 08 Januari 2015

The Power of "te(r)lanjur

Pasti telinga kita sudah familiar dengan kata terlanjur, di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tak ada kata "terlanjur ", tetapi yang ada hanya kata "telanjur". Makanya dalam judul sengaja diberikan tanda kurung untuk huruf "R", agar bisa mengikuti kaidah bahasa yang ada. Telanjur/Terlanjur sendiri menurut KBBI memiliki banyak arti berdasarkan kata yang mengikutinya , tapi saya lebih tertarik pada arti yang ini. Telanjur/Terlanjur adalah sudah
terlambat hingga sukar atau tidak
dapat ditarik kembali, diulang, dsb ( Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online - definisi kata telanjur - http://kbbi.web.id/telanjur) . Dan karena kita semua sudah terlanjur menggunakan kata Terlanjur bukan Telanjur, maka selanjutnya saya akan menggunakan kata Terlanjur saja. Sebenarnya bukan arti kata telanjur ataupun perbedaan kata yang biasa digunakan antara terlanjur/telanjur yang menjadi inti untuk dijadikan pembahasan dalam tulisan ini. Anggap saja itu sebagai selingan untuk menambah wawasan saja.
Peribahasa nasi sudah menjadi bubur, tentu bukan peribahasa yang sulit dipahami karena kita semua sudah sering mendengar peribahasa itu. Sedangkan artinya adalah Nasi telah menjadi bubur
artinya:
Sesuatu hal yang sudah terlanjur
terjadi tidak dapat diulang/
diperbaiki lagi ( Arti Peribahasa Indonesia: Nasi Telah Menjadi Bubur - http://artiperibahasa.blogspot.in/2013/02/nasi-telah-menjadi-bubur.html?m=1 ). Dari arti peribahasa itu sendiri tersisip kata terlanjur, dan bahkan arti peribahasa nasi sudah menjadi bubur dan kata telanjur memiliki arti yang tidak berbeda jauh. Jika di perhatikan lagi dengan kalimat yang aslinya dan bukan berbentuk peribahasa nasi sudah menjadi bubur, timbul pertanyaan "apakah nasi yang sudah menjadi bubur, akan dibiarkan begitu saja lalu dibuang? Atau kah kita mau menambahkan sedikit bahan-bahan lain agar bubur itu bisa lebih enak dan selanjutnya kita santap?". Jawaban dari pertanyaan itu ada pada diri kita sendiri, diibaratkan apabila memilih pertanyaan pertama berarti kita memilih untuk menyesali apa yang sudah terjadi dan tak akan mendapatkan pembelajaran apapun jika hanya membiarkan dan membuang begitu saja peristiwa yang tidak diinginkan. Karena tentu saja rasa menyesal tidak dapat merubah apapun, yang ada hanya memperburuk keadaan diri sendiri dan perasaan bersalah terus menghantui pikiran.
Sedangkan apabila memilih pertanyaan yang kedua, ini kebalikan dari terus-menerus menyesali suatu kejadian. Dan saya berani mengatakan ini yang namanya The Power of Terlanjur. Saat nasi sudah terlanjur berubah bentuk menjadi bubur, kita bisa mengkreasikan bahan-bahan lain dan mencampurkannya ke dalam bubur agar lebih terlihat menarik dan tentu saja lebih enak. Bubur yang awalnya tidak diinginkan,akhirnya bisa disantap sebagai pengganti nasi. Bahkan seorang haji Sulam saja bisa sukses dan naik haji berkat berjualan bubur. Tapi sayang nasibnya tragis, Haji Sulam harus meninggal di negara konflik suriah saat jadi relawan disana. Eh kok jadi ngomongin haji Sulam, udah ah kembali ke laptop *ala tukul
Bagaimanapun di setiap kejadian apapun hasilnya kita harus bersyukur dan bisa mengambil hikmahnya walaupun hanya sedikit saja. Seperti analogi nasi dan bubur itu, ada saatnya bangkit saat terpuruk dan melakukan sesuatu agar sebuah keterlanjuran itu tidak menjadi sia-sia. Jadikan kata terlanjur sebagai sebuah awal baru untuk melangkah maju. Jangan berlarut dengan rasa penyesalan yang berlebih. Dunia tak pernah berhenti bergerak, dan jangan sampai kita diam dan tertinggal jauh oleh orang lain. Bergeraklah setidaknya untuk diri sendiri, dan jangan putus asa jika sesuatu hal tak seperti apa yang diinginkan.
*ini hanya coretan asal saja, jika ada yang bermanfaat dari tulisan ini silahkan ambil yang baiknya, tapi jika kurang bermanfaat abaikan saja