Minggu, 23 November 2014

Ingin Lolos Ke Semifinal AFF,Timnas Tak Bisa Hanya Bergantung Pada Keberuntungan

Pertandingan perdana piala AFF bagi skuad timnas Indonesia sudah dilewati dengan hasil yang tidak mengecewakan tapi jika melihat proses sampai terciptanya hasil tersebut sangat mengkhawatirkan. Bagaimana tidak,Vietnam berhasil menguasai jalannya pertandingan. Pemain Indonesia dipaksa harus berada di sepertiga lapangan pertahanan sendiri. Hanya menempatkan seorang Sergio Van Dijk (SVD) di tengah lapangan, untuk menerima umpan panjang dari sektor belakang. Peran Boaz Solossa, M Ridwan ataupun Zulham Zamrun yang rencana awal di plot sebagai penyokong SVD pun kurang terlihat kontribusinya, hanya sesekali melakukan serangan sporadis yang bisa dengan mudah dipatahkan oleh pemain bertahan Vietnam.
Sebenarnya ketiga pemain tersebut tidak bisa dipersalahkan karena tidak bisa memberi umpan-umpan matang untuk SVD, karena mereka pun tidak diberi suplai bola dari belakang ditambah peragaan pressing pemain Vietnam tampak rapih dan determinasi mereka sungguh luar biasa. Di sisi lain Manahati dan Raphael Maitimo nampak keteteran menghadapi pemain-pemain Vietnam. Alhasil fokus mereka pun hanya ada di lini pertahanan dan sulit untuk mengalirkan bola ke lini tengah. Ketiadaan sosok playmaker yang ada pada diri pemain Firman Utina ataupun Evan Dimas menjadi penyebab lini tengah timnas tidak punya kreatifitas untuk membangun serangan.
" Beruntung " indonesia mendapat durian runtuh, sempat tertinggal 2 kali timnas mendapatkan keberuntungan oleh  2 kali blunder pemain Vietnam. Gol pertama Zulham Zamrun terjadi karena kelengahan bek Vietnam yang gagal menyapu dengan sempurna umpan lambung dari M Ridwan, yang malah seperti memberi umpan ke kaki Zulham, dan dengan sempurna pula melakukan tembakan menyusur tanah dan menembus gawang Vietnam. Begitupun dengan gol kedua yang kembali berbau keberuntungan, tendangan keras mendatar dari Syamsul Arif tak bisa ditangkap kiper dengan sempurna dan meluncur di sela 2 kakinya.
Pertanyaannya, Apakah keberuntungan itu akan terus ada di pihak timnas??
Rasanya menurut saya tidak bisa lolos ke semifinal jika timnas hanya mengandalkan keberuntungan untuk meraih tropi piala AFF. Alfred Riedl sudah barang tentu melakukan evaluasi, ada banyak titik lemah yang dimiliki timnas yang jadi pertimbangan Riedl untuk segera diperbaiki. Apalagi lawan yang akan dihadapi timnas di babak grup tak bisa dipandang sebelah mata. Disana ada Filipina dan Laos, 2 tim underdog yang bisa saja memberikan kejutan. Filipina dengan pemain naturalisasinya menjelma menjadi kekuatan baru di asia tenggara. Apalagi masih ada 2 pemain suami muda (younghusband) bersaudara dan pemain naturalisasi baru yang berdarah jerman yang pada pertandingan pembuka AFF mampu mencetak 2 gol ke gawang Laos. Begitupun dengan Laos yang mampu berevolusi dari tim yang selalu menjadi bulan-bulanan tim lawan, kini menjadi tim yang mampu menyulitkan tim lawan.
Rasanya perjuangan untuk sekedar lolos dari grup dan lolos semifinal pun tidak akan mudah. Perlu kerja keras dan strategi yang tepat untuk mampu mengeluarkan potensi yang dimiliki pemain timnas. Skema 4-2-3-1 (tanpa playmaker) kegemaran coach Alfred menurutku harus berani di reformasi. Terlalu riskan jika terus pakai strategi itu apalagi jika harus bertemu dengan lawan yang setipe dengan Vietnam. Variasi skema lain pun bisa dicoba, misalnya dengan kembali ke pakem tradisional 4-4-2 dengan mengganti salah satu gelandang bertahan Manahati/Maitimo dengan Firman Utina/Evan Dimas. 2 opsi playmaker ini bisa merubah arah permainan, Seperti kita ketahui Firman dan Evan punya kemiripan gaya bermain. Perbedaan kecil antara keduanya ada pada umpan yang diberikan, Firman cenderung memberi umpan lebih melebar, keuntungannya di tim ada tandemnya di persib yaitu M Ridwan di kanan dan Zulham di kiri,dan saya yakin hadirnya Firman bisa membuat mereka lebih eksplosif di kedua sayap. Sedangkan Evan punya tipe permainan yang lebih stylish dan mampu men-delay dan mengatur tempo. Selain itu skill individu Evan pun lumayan baik untuk mampu merusak irama permainan lawan. Ditambah lagi Evan punya through pass yang lumayan akurat bisa memanjakan duet Boaz-SVD di depan. Jika tetap ingin bermain dengan pola 4-2-3-1 dibutuhkan pemain tengah yang memiliki visi bermain yang baik dan daya jelajah yang luas. Jika di liga eropa mungkin seperti Yaya Toure ataupun Paul Pogba yang punya daya jelajah,visi,skill individu,tendangan kencang dan juga punya kemampuan yang sama dalam bertahan dan menyerang yang sama baiknya. Sayangnya pemain yang punya tipe seperti itu hampir tidak ada,hanya Hariono yang lebih dominan sebagai Breaker atau gelandang penjemput bola bukan bertipe destroyer (perusak) . Selain Hariono masih ada Imanuel Wanggai yang punya gaya bermain mirip Hariono,kelebihannya Wanggai punya skill individu yang lebih baik dibanding Hariono,sedangkan kekurangannya dia temperamen yang bisa berpotensi merugikan tim.
Sebagai pecinta sepakbola dan warga Indonsia,saya berharap timnas bisa memberikan prestasi dan permainan yang membanggakan Indonsia.
Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar